KEMAMPUAN MEMBACA PUISI SISWA KELAS X
SMK NEGERI PRINGKUKU
NILA HANDAYANI
NIM: 2088201015
Disusun Guna Memenuhi Tugas Metode Penelitian Kuantitatif
Dosen Pengampu: Nimas Permata Putri, M.Pd.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
PACITAN
2022
, BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran Bahasa Indonesia sudah pasti kita dapatkan sejak di Sekolah
Dasar. Pembelajaran yang diberikan mencakup kemampuan berbahasa dan
kemampuan bersastra yang meliputi aspek mendengarkan, berbicara,
membaca dan menulis. Pengajaran sastra yang diberikan biasanya berupa
drama, cerpen, novel, dan puisi. Tujuan mata pelajaran sastra berorientasi
pada hakikat pembelajaran sastra yang menyatakan bahwa belajar sastra
adalah belajar menghargai manusia dan kemanusiaannya. Tuntutan di
lapangan dalam mata pelajaran sastra juga difokuskan pada kemahiran
bersastra, hal ini bertujuan agar peserta didik dapat memahami, dan terampil
dalam menghayati, menciptakan, juga menghargai sastra itu sendiri.
Puisi merupakan sebuah ungkapan perasaan seseorang. Ditinjau dari
keindahan bahasa puisi menurut Kosasih (2008:206) menyatakan, bahwa
“Puisi adalah suatu bentuk karya sastra dengan menggunakan kata-kata yang
indah dan kaya makna serta merupakan bentuk karya sastra yang
mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair dari apa yang masih dalam
bayangan penyair dengan menggunakan bahasa yang indah dan mudah di
pahami oleh pembaca.” Melalui unsur-unsur inilah yang sering dimasukkan
pengajaran-pengajaran atau nasihat sehingga dengan cara membaca puisi dan
tanpa disadari banyak memperoleh pesan-pesan yang bermanfaat.
, Dalam penyampaian sebuah puisi, seorang pembaca dituntut memiliki
kemampuan berolah vokal serta dapat melafalkan kata kata dengan tepat agar
pendengar dapat menangkap dengan jelas. Dalam membaca puisi dibutuhkan
pengucapan lafal yang tepat, intonasi, dan ekspresi secara jelas. Junaedi
(dalam Mahsunah, 2012:187) menjelaskan bahwa dalam membaca puisi ada
enam kategori yang harus dipelajari yaitu: baca biasa, baca vokalis, baca
gramatikal, baca puitis, deklamasi puisi, dan dramatisasi puisi. Dalam kegiatan
membaca puisi, diperlukan pembacaan yang puitis, yaitu membaca dengan
memperhatikan unsur-unsur seperti irama, intonasi, dan keseimbangan. Selain
itu, dalam deklamasi puisi dibutuhkan penampilan membaca puisi yang
ekspresif. Untuk penampilan ekspresif ini mutlak pelafalan fonem yang tepat
dan sempurna, penghayatan, serta pemahaman puisi yang baik (Mahsunah,
2012:187).
Membaca puisi berarti berkomunikasi secara lisan menyampaikan buah
pikiran dan pengalaman batin seseorang kepada orang lain. Seseorang
membaca puisi harus menangkap makna yang terdalam dari kata atau baitnya.
Jika seseorang telah memahami isi sebuah puisi dengan benar, berarti dia
sudah menjiwai seluruh rangkaian kata pada puisi yang sedang dia baca.
Peserta didik juga dituntut untuk bisa mencari makna yang terkandung dalam
puisi, berlatih membaca puisi dan mengekspresikannya, sehingga peserta didik
dapat memahami dan menghayati untuk selanjutnya hal-hal baik yang
terkandung dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Aspek sastra sangat
penting dikuasai oleh seorang guru dalam mengajarkan puisi pada siswa.