BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut. World. Health. Organization. (WHO) .sehat. adalah. kondisi.
lengkap. baik. fisik,. mental,. maupun. kesejahteraan. sosial, Sedangkan.
kesehatan. mental merupakan. kondisi. sejahtera. karena. individu. menyadari
potensi. dirinya,. dapat. mengatasi. tekanan, bekerja. dengan. baik. dan. produktif,.
serta. mampu. memberikan. kontribusi. bagi. kelompoknya (dr. Allert Benedicto
Ieuan Noya, 2019). Kesehatan mental merupakan unit yang penting dalam
kehidupan manusia. Banyak orang yang mengutamakan kesehatan fisik daripada
memperhatikan kesehatan mentalnya, hal ini terutama dilandasi oleh keyakinan
bahwa kesehatan fisik terlihat dan terasa lebih jelas sedangkan kesehatan
mental/psikologis cenderung tidak terlihat dan tidak dapat dirasakan secara
langsung. Padahal sehat mental sama pentingnya dengan sehat jasmani.
Dalam artikel yang dirilis oleh health.detik.com pada tahun 2019, informasi
terkait kesehatan mental menjadi informasi yang hangat sebagai bahan diskusi
dan menjadi urutan ke-3 dari 5 informasi kesehatan yang paling banyak dicari
orang melalui halaman Google. Meningkatnya antusias terhadap informasi
kesehatan mental secara berkelanjutan turut mendorong peningkatan kesadaran
akan pentingnya kesehatan mental di masyarakat. Banyaknya orang yang berani
untuk speak up akan sadar pentingnya kesehatan mental, diharapkan dapat
menurunkan penyebab utama kasus bunuh diri di Indonesia. Naiknya kesadaran
, 2
ini turut tercermin dengan kehadiran sejumlah komunitas, kampanye, dan
perbincangan di media sosial terkait kesehatan mental.
Kesehatan mental seringkali berkaitan dengan rasa depresi yang tidak jarang
berujung pada kasus bunuh diri. Salah satu negara dengan angka bunuh diri
tertinggi, yaitu Korea Selatan, yang hampir setiap tahun menghadapi kasus bunuh
diri, umumnya dilakukan oleh Idol ternama yang mengalami depresi. WHO
memprediksi, depresi akan menjadi penyakit dengan angka kasus tertinggi kedua,
setelah penyakit jantung (Wisnubrata, 2019). Menurut psikolog dalam sebuah
artikel yang berjudul Mata Psikologi “Memandang Depresi Artis K-Pop Berujung
Bunuh Diri” Veronica Adesla mengatakan bahwa depresi dapat dialami oleh
siapapun manusia, tidak memilih-milih apakah dia public figure atau bukan.
hanya saja orang-orang dengan tingkat popularitas yang tinggi memiliki resiko
yang lebih rentan terhadap depresi. Terutama berkaitan dengan kondisi stres dari
kepopuleran dari idol tersebut, misalnya seperti komentar buruk, fitnah, hujatan,
dan makian dari netizen.
Menjaga kesehatan mental dalam berhubungan dengan sesama menjadi
tugas utama bagi semua manusia. Seseorang yang sehat mentalnya akan bereaksi
dengan cara yang positif dalam banyak situasi. Berbeda dengan orang yang tidak
stabil mentalnya, ia akan bereaksi negatif terhadap sesuatu yang terjadi dalam
hidup. Tingginya jumlah penduduk yang mengalami depresi, berbanding terbalik
dengan ketersediaan tenaga kerja profesional kesehatan jiwa, khususnya psikiater
yang dalam hal ini turut serta mempengaruhi kesehatan mental masyarakat
(Scholastica Gerintya, 2017). Elemen-elemen lain seperti konselor, bimbingan
rohani, bimbingan masyarakat dan lain sejenisnya berperan serta membantu
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut. World. Health. Organization. (WHO) .sehat. adalah. kondisi.
lengkap. baik. fisik,. mental,. maupun. kesejahteraan. sosial, Sedangkan.
kesehatan. mental merupakan. kondisi. sejahtera. karena. individu. menyadari
potensi. dirinya,. dapat. mengatasi. tekanan, bekerja. dengan. baik. dan. produktif,.
serta. mampu. memberikan. kontribusi. bagi. kelompoknya (dr. Allert Benedicto
Ieuan Noya, 2019). Kesehatan mental merupakan unit yang penting dalam
kehidupan manusia. Banyak orang yang mengutamakan kesehatan fisik daripada
memperhatikan kesehatan mentalnya, hal ini terutama dilandasi oleh keyakinan
bahwa kesehatan fisik terlihat dan terasa lebih jelas sedangkan kesehatan
mental/psikologis cenderung tidak terlihat dan tidak dapat dirasakan secara
langsung. Padahal sehat mental sama pentingnya dengan sehat jasmani.
Dalam artikel yang dirilis oleh health.detik.com pada tahun 2019, informasi
terkait kesehatan mental menjadi informasi yang hangat sebagai bahan diskusi
dan menjadi urutan ke-3 dari 5 informasi kesehatan yang paling banyak dicari
orang melalui halaman Google. Meningkatnya antusias terhadap informasi
kesehatan mental secara berkelanjutan turut mendorong peningkatan kesadaran
akan pentingnya kesehatan mental di masyarakat. Banyaknya orang yang berani
untuk speak up akan sadar pentingnya kesehatan mental, diharapkan dapat
menurunkan penyebab utama kasus bunuh diri di Indonesia. Naiknya kesadaran
, 2
ini turut tercermin dengan kehadiran sejumlah komunitas, kampanye, dan
perbincangan di media sosial terkait kesehatan mental.
Kesehatan mental seringkali berkaitan dengan rasa depresi yang tidak jarang
berujung pada kasus bunuh diri. Salah satu negara dengan angka bunuh diri
tertinggi, yaitu Korea Selatan, yang hampir setiap tahun menghadapi kasus bunuh
diri, umumnya dilakukan oleh Idol ternama yang mengalami depresi. WHO
memprediksi, depresi akan menjadi penyakit dengan angka kasus tertinggi kedua,
setelah penyakit jantung (Wisnubrata, 2019). Menurut psikolog dalam sebuah
artikel yang berjudul Mata Psikologi “Memandang Depresi Artis K-Pop Berujung
Bunuh Diri” Veronica Adesla mengatakan bahwa depresi dapat dialami oleh
siapapun manusia, tidak memilih-milih apakah dia public figure atau bukan.
hanya saja orang-orang dengan tingkat popularitas yang tinggi memiliki resiko
yang lebih rentan terhadap depresi. Terutama berkaitan dengan kondisi stres dari
kepopuleran dari idol tersebut, misalnya seperti komentar buruk, fitnah, hujatan,
dan makian dari netizen.
Menjaga kesehatan mental dalam berhubungan dengan sesama menjadi
tugas utama bagi semua manusia. Seseorang yang sehat mentalnya akan bereaksi
dengan cara yang positif dalam banyak situasi. Berbeda dengan orang yang tidak
stabil mentalnya, ia akan bereaksi negatif terhadap sesuatu yang terjadi dalam
hidup. Tingginya jumlah penduduk yang mengalami depresi, berbanding terbalik
dengan ketersediaan tenaga kerja profesional kesehatan jiwa, khususnya psikiater
yang dalam hal ini turut serta mempengaruhi kesehatan mental masyarakat
(Scholastica Gerintya, 2017). Elemen-elemen lain seperti konselor, bimbingan
rohani, bimbingan masyarakat dan lain sejenisnya berperan serta membantu