The Golden Treasure
Harta Karun Emas
By Hans Christian Andersen
--Translated : Timur Wardana--
The drummer's wife went into the church. She saw Istri sang penabuh genderang masuk ke dalam
the new altar with the painted pictures and the carved gereja. Ia melihat altar baru dengan lukisan dan
angels. Those upon the canvas and in the glory over ukiran malaikat. Para malaikat tergambar di atas
the altar were just as beautiful as the carved ones; and kanvas dan kemuliaan di altar itu sama indahnya
they were painted and gilt into the bargain. Their hair dengan ukiran-ukiran itu; dan semua itu dilukis dan
gleamed golden in the sunshine, lovely to behold; but diberi emas. Rambut mereka berkilau keemasan di
the real sunshine was more beautiful still. It shone bawah sinar matahari, sungguh indah untuk dilihat;
redder, clearer through the dark trees, when the sun meskipun sinar matahari yang sesungguhnya jauh
went down. It was lovely thus to look at the sunshine lebih indah tentunya. Bersinar lebih merah, lebih
of heaven. And she looked at the red sun, and she jelas terlihat melalui pepohonan yang gelap, ketika
thought about it so deeply, and thought of the little matahari terbenam. Sungguh indah melihat sinar
one whom the stork was to bring, and the wife of the matahari dari surga. Dan ia memandangi matahari
drummer was very cheerful, and looked and looked, yang merah tersebut, dan ia merenungkannya begitu
and wished that the child might have a gleam of dalam, dan memikirkan tentang anak kecil yang akan
sunshine given to it, so that it might at least become dibawa oleh sang bangau, dan istri sang penabuh
like one of the shining angels over the altar. genderang sangat riang, dan memandang dan
memandangi, dan berharap bahwa anak itu akan
mendapatkan pancaran sinar matahari yang
diberikan kepadanya, sehingga setidaknya ia bisa
menjadi seperti salah satu malaikat yang bersinar di
atas altar.
And when she really had the little child in her arms, Dan saat ia menggendong anak kecil itu, dan
, and held it up to its father, then it was like one of the mengangkatnya ke hadapan ayahnya, tampaklah
angels in the church to behold, with hair like gold-- anak itu seperti salah satu malaikat yang ada di
the gleam of the setting sun was upon it. gereja, dengan rambut seperti emas - kilauan
matahari terbenam ada di atasnya.
"My golden treasure, my riches, my sunshine!" said "Harta Emasku, kekayaanku, sinar matahariku!" kata
the mother; and she kissed the shining locks, and it sang ibu; dan ia mencium helaian rambut yang
sounded like music and song in the room of the bersinar, dan terdengar seperti musik dan lagu di
drummer; and there was joy, and life, and movement. ruangan sang penabuh genderang; dan di sana ada
The drummer beat a roll--a roll of joy. And the Drum sukacita, dan kehidupan, dan gerakan. Sang penabuh
said--the Fire-drum, that was beaten when there was genderang menabuh sebuah pukulan - sebuah
a fire in the town: pukulan sukacita. Lalu sang penabuh genderang
berkata - Sang Penabuh Api, yang ditabuh ketika
terjadi kebakaran di kota:
"Red hair! the little fellow has red hair! Believe the "Rambut merah! Si kecil berambut merah!
drum, and not what your mother says! Rub-a dub, Percayalah pada gendang, dan tidak apa ibu
rub-a dub!" mengatakan! Rub-a dub, rub-a dub!"
And the town repeated what the Fire-drum had said. Dan kotapun mengulangi apa yang dikatakan oleh
Penabuh api itu.
The boy was taken to church, the boy was christened. Sikecil merah dibawa ke gereja, dan dibaptis. Tidak
There was nothing much to be said about his name; diperlukan banyak kata mengenai namanya; ia
he was called Peter. The whole town, and the Drum dipanggil Peter. Seluruh kota, dan Sang Penabuh
too, called him Peter the drummer's boy with the red juga, memanggilnya Peter si anak penabuh
hair; but his mother kissed his red hair, and called genderang dengan rambut merah; namun ibunya
him her golden treasure. mencium rambut merahnya, dan memanggilnya harta
emasnya.
In the hollow way in the clayey bank, many had Di sepanjang jalan berlubang di tepi sungai yang
scratched their names as a remembrance. berlempung, sudah banyak yang menggoreskan nama
mereka sebagai bentuk kenangan.
"Celebrity is always something!" said the drummer; "Selebriti selalu bermakna penting!" kata si penabuh
and so he scratched his own name there, and his little genderang; dan ia pun menggoreskan namanya
son's name likewise. sendiri di sana, demikian juga dengan nama anak