SNI 06-6399-2002
TATA CARA PENGAMBILAN CONTOH ASPAL
1. Ruang Lingkup
1.1 Tata cara ini digunakan untuk pengambilan contoh aspal di pabrik, tempat
penyimpanan atau saat pengiriman.
1.2 Besaran dinyatakan dalam Satuan SI sebagai satuan Standar.
1.3 Standar ini tidak mencakup semua permasalahan keselamatan yang berkaitan dengan
penggunaannya. Penerapan langkah-Iangkah dan batasan-batasan yang menyangkut
kesehatan dan keselamatan kerja menjadi tanggung jawab pengguna standar ini.
2. Acuan
− ASTM D 140-93, Standard Practice for Sampling Bituminous Materials.
− ASTM D 346, Practice for Collection and Preparation of Coke Samples for Laboratory
Analysis.
3. Kegunaan
3.1 Pengambilan contoh sama pentingnya dengan pengujian. Pengambilan contoh harus
diambil secara hati-hati untuk mendapatkan contoh yang mewakili sifat dan kondisi
bahan aslinya.
3.2 Contoh-contoh dapat diambil untuk salah satu dari dua maksud dibawah ini :
3.2.1 Untuk mendapatkan contoh secara rata-rata yang mewakili bahan.
3.2.2 Untuk memasikan variasi maksimum sifat-sifat bahan.
4. Pemilihan Contoh
4.1 Harus diupayakan agar pengambilan contoh dilakukan di tempat penyimpanan atau di
pabrik pada waktu tertentu sedemikian rupa sehingga penolakan/penerimaan aspal
dapat dilakukan sebelum pengiriman.
4.2 Bila pengambilan contoh tidak dari pabrik atau tempat penyimpanan, pengambilan
contoh harus dilakukan segera mungkin di tempat tujuan.
5. Ukuran Contoh
5.1 Ukuran contoh bahan cair harus sebagai berikut :
5.1.1 Untuk pengujian rutin aspal minyak di laboratorium 1 liter, sedangkan untuk aspat
emulsi 4 liter.
5.1.2 Dari penyimpanan dalam bentuk curah 4 liter.
5.1.3 Dari drurn 1 liter.
1
, SNI 06-6399-2002
5.2 Ukuran contoh untuk bahan semi padat atau padat harus sebagai berikut :
5.2.1 Dart drum atau blok-blok 1 atau 1,5 kg.
5.2.2 Dari bahan yang dihaluskan atau berbentuk tepung dalam karung atau kantong; 1
sampai 1,5 kg.
6. Wadah
6.1 Jenis Wadah
6.1.1 Wadah untuk aspal cair dan aspal semi padat, kecuali aspal emulsi, harus berupa
kaleng yang bermulut lebar dengan tutup ulir atau tutup kaleng yang dilengkapi
dengan seal.
6.1.2 Wadah contoh untuk aspal emulsi, jerigen atau botol plastik yang bermulut lebar yang
mempunyai tutup ulir atau tutup plastik yang dilengkapi seal pada bagian atasnya.
6.1.3 Wadah contoh untuk aspal yang berbentuk bubuk atau tepung harus berupa kaleng
atau plastik yang dilengkapi tutup yang diseal atau kantong plastik yang dilctakkan
dalam wadah lain yang sesuai.
6.2 Ukuran wadah
Ukuran wadah tergantung pada jumlah contoh yang diperlukan.
7. Penyimpanan Contoh
7.1 Wadah contoh harus baru, tidak boleh basah atau tidak boleh dilap dengan kain yang
berminyak. Apabila wadah contoh mengandung minyak patri atau tidak kering dan tidak
bersih, maka wadah contoh tidak boleh digunakan. Wadah contoh harus tertutup rapat.
7.2 Contoh harus dilindungi agar tidak sampai terkontaminasi langsung, setelah pengisian
wadah harus segera ditutup rapat-rapat dan di seal.
7.3 Wadah contoh yang telah diisi tidak boleh direndam dalam pelarut, tidak boleh dilap
dengan kain yang dibasahi pelarut. Bila membersihkan gunakan kain yang bersih dan
kering.
7.4 Pengambilan contoh aspal emulsi tidak boleh dilakukan sedemikian rupa yang akan
menyebabkan udara terperangkap sehingga dapat menyebabkan kesalahan pengujian.
Wadah contoh harus diisi penuh untuk mengurangi terbentuknya lapisan antara udara
dan emulsi.
7.5 Contoh tidak boleh dipindahkan dari satu wadah ke wadah yang lainnya kecuali
diperlukan sesuai prosedurnya.
7.6 Segera setelah diisi, ditutup dan dibersihkan, wadah harus dilengkapi dengan label
dengan tulisan yang jelas. Label dapat berupa kain (linen) yang diikat serat pada
wadah sehingga tidak mudah lepas pada saat pengiriman. Label dari kain linen tidak
boleh dilekatkan pada tutup wadah.
2
TATA CARA PENGAMBILAN CONTOH ASPAL
1. Ruang Lingkup
1.1 Tata cara ini digunakan untuk pengambilan contoh aspal di pabrik, tempat
penyimpanan atau saat pengiriman.
1.2 Besaran dinyatakan dalam Satuan SI sebagai satuan Standar.
1.3 Standar ini tidak mencakup semua permasalahan keselamatan yang berkaitan dengan
penggunaannya. Penerapan langkah-Iangkah dan batasan-batasan yang menyangkut
kesehatan dan keselamatan kerja menjadi tanggung jawab pengguna standar ini.
2. Acuan
− ASTM D 140-93, Standard Practice for Sampling Bituminous Materials.
− ASTM D 346, Practice for Collection and Preparation of Coke Samples for Laboratory
Analysis.
3. Kegunaan
3.1 Pengambilan contoh sama pentingnya dengan pengujian. Pengambilan contoh harus
diambil secara hati-hati untuk mendapatkan contoh yang mewakili sifat dan kondisi
bahan aslinya.
3.2 Contoh-contoh dapat diambil untuk salah satu dari dua maksud dibawah ini :
3.2.1 Untuk mendapatkan contoh secara rata-rata yang mewakili bahan.
3.2.2 Untuk memasikan variasi maksimum sifat-sifat bahan.
4. Pemilihan Contoh
4.1 Harus diupayakan agar pengambilan contoh dilakukan di tempat penyimpanan atau di
pabrik pada waktu tertentu sedemikian rupa sehingga penolakan/penerimaan aspal
dapat dilakukan sebelum pengiriman.
4.2 Bila pengambilan contoh tidak dari pabrik atau tempat penyimpanan, pengambilan
contoh harus dilakukan segera mungkin di tempat tujuan.
5. Ukuran Contoh
5.1 Ukuran contoh bahan cair harus sebagai berikut :
5.1.1 Untuk pengujian rutin aspal minyak di laboratorium 1 liter, sedangkan untuk aspat
emulsi 4 liter.
5.1.2 Dari penyimpanan dalam bentuk curah 4 liter.
5.1.3 Dari drurn 1 liter.
1
, SNI 06-6399-2002
5.2 Ukuran contoh untuk bahan semi padat atau padat harus sebagai berikut :
5.2.1 Dart drum atau blok-blok 1 atau 1,5 kg.
5.2.2 Dari bahan yang dihaluskan atau berbentuk tepung dalam karung atau kantong; 1
sampai 1,5 kg.
6. Wadah
6.1 Jenis Wadah
6.1.1 Wadah untuk aspal cair dan aspal semi padat, kecuali aspal emulsi, harus berupa
kaleng yang bermulut lebar dengan tutup ulir atau tutup kaleng yang dilengkapi
dengan seal.
6.1.2 Wadah contoh untuk aspal emulsi, jerigen atau botol plastik yang bermulut lebar yang
mempunyai tutup ulir atau tutup plastik yang dilengkapi seal pada bagian atasnya.
6.1.3 Wadah contoh untuk aspal yang berbentuk bubuk atau tepung harus berupa kaleng
atau plastik yang dilengkapi tutup yang diseal atau kantong plastik yang dilctakkan
dalam wadah lain yang sesuai.
6.2 Ukuran wadah
Ukuran wadah tergantung pada jumlah contoh yang diperlukan.
7. Penyimpanan Contoh
7.1 Wadah contoh harus baru, tidak boleh basah atau tidak boleh dilap dengan kain yang
berminyak. Apabila wadah contoh mengandung minyak patri atau tidak kering dan tidak
bersih, maka wadah contoh tidak boleh digunakan. Wadah contoh harus tertutup rapat.
7.2 Contoh harus dilindungi agar tidak sampai terkontaminasi langsung, setelah pengisian
wadah harus segera ditutup rapat-rapat dan di seal.
7.3 Wadah contoh yang telah diisi tidak boleh direndam dalam pelarut, tidak boleh dilap
dengan kain yang dibasahi pelarut. Bila membersihkan gunakan kain yang bersih dan
kering.
7.4 Pengambilan contoh aspal emulsi tidak boleh dilakukan sedemikian rupa yang akan
menyebabkan udara terperangkap sehingga dapat menyebabkan kesalahan pengujian.
Wadah contoh harus diisi penuh untuk mengurangi terbentuknya lapisan antara udara
dan emulsi.
7.5 Contoh tidak boleh dipindahkan dari satu wadah ke wadah yang lainnya kecuali
diperlukan sesuai prosedurnya.
7.6 Segera setelah diisi, ditutup dan dibersihkan, wadah harus dilengkapi dengan label
dengan tulisan yang jelas. Label dapat berupa kain (linen) yang diikat serat pada
wadah sehingga tidak mudah lepas pada saat pengiriman. Label dari kain linen tidak
boleh dilekatkan pada tutup wadah.
2